
MELBOURNE. MINGGU — Warga Australia, Minggu (22/2), melakukan upacara dalam hari berkabung untuk para korban kebakaran paling mematikan di negeri itu.
Tim forensik yang berada di sekitar kawasan bencana beristirahat sebentar dari kegiatan mereka mencari sisa-sisa tubuh korban di antara reruntuhan rumah yang hancur diratakan oleh api yang menyapu negara bagian Victoria selatan pada 7 Februari, dengan korban lebih dari 200 orang.
Ribuan orang—termasuk Perdana Menteri Kevin Rudd—berkumpul di stadion olahraga di Victorian, ibu kota Melbourne, untuk mengenang para korban.“Kebakaran ini telah menyatukan kita dalam kedukaan. Kebakaran ini juga telah menyatukan kita dalam tanggung jawab dan menyatukan kita dalam tugas untuk membangun kembali semuanya. Karena kita akan membangun kembali semuanya, “ kata Perdana Menteri Victorian John Brumby dalam acara peringatan tersebut.
Ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan upacara pada layar raksasa yang didirikan di tempat lain di Melbourne dan kota-kota lain.
Anak Ratu Elizabeth, Puteri Anne, terbang ke Australia untuk menghadiri upacara dan ratusan korban selamat dibawa dalam bus dari daerah bencana.
Korban lainnya yang selamat tinggal di tenda-tenda atau dengan teman-teman mereka sejak mereka kehilangan rumah mereka datang berkumpul di taman dan tempat umum untuk menonton upacara dan berduka cita. Semua jaringan televisi di Australia menyiarkan acara peringatan ini secara langsung.
Pada permulaan upacara peringatan di Melbourne, Rudd, Puteri Anne, dan tamu kehormatan lainnya berjalan berdampingan membentuk lingkaran besar sebelum memasuki tahap upacara yang lebih besar, menaburkan satu bunga putih. Bel pun berbunyi, dan acara dimulai dengan khidmat diikuti penaburan bunga yang dilakukan oleh para pemadam kebakaran dengan seragam mereka.
Kebakaran yang terjadi pada 7 Februari lalu diperparah dengan kemarau dan kekeringan yang menghabiskan lebih dari 1.500 mil persegi. Lebih dari 1.800 rumah dan peternakan hancur. Korban meninggal yang terakhir dikonfirmasi berjumlah 209, tetapi para petugas mengatakan bahwa mereka tetap akan terus mencari jenazah yang mungkin tertimpa reruntuhan dan masih ada kemungkinan terus bertambah.
“Kami terus berusaha mencari potongan-potongan setelah terjadinya bencana alam yang terburuk dalam sejarah Australia,” ujar Brumby. Sementara itu di kota Whittlesea, yang menjadi tempat pusat bantuan, warga yang berduka berkumpul di taman untuk menyaksikan siaran upacara tersebut.
Tim forensik yang berada di sekitar kawasan bencana beristirahat sebentar dari kegiatan mereka mencari sisa-sisa tubuh korban di antara reruntuhan rumah yang hancur diratakan oleh api yang menyapu negara bagian Victoria selatan pada 7 Februari, dengan korban lebih dari 200 orang.
Ribuan orang—termasuk Perdana Menteri Kevin Rudd—berkumpul di stadion olahraga di Victorian, ibu kota Melbourne, untuk mengenang para korban.“Kebakaran ini telah menyatukan kita dalam kedukaan. Kebakaran ini juga telah menyatukan kita dalam tanggung jawab dan menyatukan kita dalam tugas untuk membangun kembali semuanya. Karena kita akan membangun kembali semuanya, “ kata Perdana Menteri Victorian John Brumby dalam acara peringatan tersebut.
Ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan upacara pada layar raksasa yang didirikan di tempat lain di Melbourne dan kota-kota lain.
Anak Ratu Elizabeth, Puteri Anne, terbang ke Australia untuk menghadiri upacara dan ratusan korban selamat dibawa dalam bus dari daerah bencana.
Korban lainnya yang selamat tinggal di tenda-tenda atau dengan teman-teman mereka sejak mereka kehilangan rumah mereka datang berkumpul di taman dan tempat umum untuk menonton upacara dan berduka cita. Semua jaringan televisi di Australia menyiarkan acara peringatan ini secara langsung.
Pada permulaan upacara peringatan di Melbourne, Rudd, Puteri Anne, dan tamu kehormatan lainnya berjalan berdampingan membentuk lingkaran besar sebelum memasuki tahap upacara yang lebih besar, menaburkan satu bunga putih. Bel pun berbunyi, dan acara dimulai dengan khidmat diikuti penaburan bunga yang dilakukan oleh para pemadam kebakaran dengan seragam mereka.
Kebakaran yang terjadi pada 7 Februari lalu diperparah dengan kemarau dan kekeringan yang menghabiskan lebih dari 1.500 mil persegi. Lebih dari 1.800 rumah dan peternakan hancur. Korban meninggal yang terakhir dikonfirmasi berjumlah 209, tetapi para petugas mengatakan bahwa mereka tetap akan terus mencari jenazah yang mungkin tertimpa reruntuhan dan masih ada kemungkinan terus bertambah.
“Kami terus berusaha mencari potongan-potongan setelah terjadinya bencana alam yang terburuk dalam sejarah Australia,” ujar Brumby. Sementara itu di kota Whittlesea, yang menjadi tempat pusat bantuan, warga yang berduka berkumpul di taman untuk menyaksikan siaran upacara tersebut.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar